Tuesday, November 27, 2018

MATERI AKIDAH AKHLAK KELAS 3 BAB 5 : AKHLAK TERCELA 1

AKHLAK TERCELA 1 

A. Pengertian akhlak tercela

Akhlak madzmumah atau akhlak tercela adalah semua perbuatan, ucapan, dan perasaan yang bisa merusak iman dan mendatangkan dosa

Akhlak Madzmumah didefiniskan sebagai akhlak yang tercela, segala macam bentuk perbuatan, ucapan, dan perasaan seseorang yang bisa merusak iman dan mendatangkan dosa juga dikategorikan sebagai akhlak madzmumah. Selanjutnya, akhlak madzmumah terbagi menjadi tiga bagian yaitu tindakan, ucapan, dan hati.

B. Akhlak Madzmumah Dari Segi Tindakan
Ada banyak contoh akhlak madzmumah jika dilihat dari segi tindakan dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti di bawah ini :



1. Dholim atau Menganiyaya adalah perbuatan yang menyakitkan hati orang lain, sedangkan orang itu tidak berdaya untuk membalas dan hanya mampu bertahan atas semua perlakuan si pelaku,



2. Bertengkar atau Berkelahi adalah persengketaan antara dua orang karena suatu masalah dan diselesaikan dengan jalan kekerasan. Salah satu jenis pertengkaran atau perkelahian yang bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari adalah perdebatan (pertengkaran dengan ucapan), tawuran, dan pengkroyokan.



3. Mencuri adalah mengambil barang orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Adapun jenis mencuri lainnya adalah mencopet (mengambil barang orang lain di tempat-tempat umum tanpa disadari pemiliknya), merampok (mengambil harta atau barang seseorang yang dilakukan dengan bergerombolan), dan korupsi (pencurian yang dilakukan pejabat kepada rakyat).



4. Membunuh adalah menghilangkan nyawa seseorang. Dalam syariat islam, membunuh merupakan salah satu perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT, baik itu di sengaja, semi sengaja, maupun pembunuhan bersalah.



5. Qot’ut Thoriq atau Begal Jalan adalah menghadang jalan seseorang yang lewat dengan tujuan untuk mengambil harta pemilik secara paksa, bahkan sampai membunuhnya.



6. Tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain. Orang yang tajassus selalu melakukan segala cara untuk mendapatkan celah dan kesalahan orang lain, bahkan sampai dengan niatan menjatuhkan orang itu melalui celah dan kesalahannya. 
7. Dan lain-lain.




C. Akhlak Madzmumah Dari Segi Ucapan
Adapun contoh akhlak madzmumah jika dilihat dari segi ucapan dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti di bawah ini :



1. Berkata kotor adalah ucapan yang bisa menyinggung orang di sekitarnya. Begitu juga halnya, meskipun ucapan itu tidak kotor tetapi dengan nada-nada keras yang bisa menyinggung orang lain, maka ucapan tersebut juga dikategorikan sebagai akhlak madzmumah.



2. Kidzbu atau Dusta adalah ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dengan sengaja dan niatan tertentu. Sedangkan lawan kata dari dusta adalah jujur, sepatutnya kita sebagai manusia yang berakhlak lebih membiasakan diri dengan kejujuran karena praktek-praktek kejujuran sudah semakin jarang dilakukan pada saat ini.



3. Fitnah adalah melontarkan tuduhan kepada orang lain. Fitnah merupakan bagian dari dusta, tetapi fitnah lebih berdosa karena diucapkan dengan niatan menjatuhkan dan menghancurkan orang lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 191 :


اَلْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Artinya :
"Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan"

4. Namimah atau Adu Domba adalah segala ucapan yang dilontarkan kepada dua orang dengan maksud untuk mengadu dan merenggangkan hubungan antara keduanya. Dalam sebuah hadist, Rosulullah SAW bersabda :


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

Artinya :
"Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba"

5. Ghibah atau Menggunjing adalah menceritakan keburukan orang lain, di mana jika dia mendengarkannya maka dia akan tersinggung. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12, Allah SWT menegaskan larangan keras bagi pelaku ghibah dengan menyamakannya seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.

6. Dan lain-lain.


D. Akhlak Madzmumah Dari Segi Hati
Adalah segala bentuk sifat dan perasaan tercela timbul di dalam hati seseorang. Adapun berikut ini adalah contoh-contoh akhlak madzmumah dari segi hati :

1. Khianat adalah perasaan ingkar atas kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain. Khianat merupakan sebuah penyakit hati yang kemudian diaplikasikan melalui tindakan penhianatan.

2. Ghadhab atau Marah adalah luapan emosi akibat kekesalan pada seseorang. Sifat pemarah memang sudah menjadi watak manusia pada umumnya, namun sifat buruk tersebut haruslah dikekang sebisa mungkin dengan sedikit demi sedikit belajar untuk sabar dan pemaaf. Rosulullah SAW menjanjikan surga bagi orang yang mau mengendalikan sifat marahnya dalam hadist berikut ini :


لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Artinya :
"Janganlah kamu marah, maka bagimu surga"

3. Thoma’ atau Tamak adalah perasaan serakah atas harta dan kenikmatan dunia. Sifat tamak tidak akan menjadikan seseorang mendapatkan apa yang dia inginkan secara sempurna, justru malah akan menghancurkan dirinya sendiri karena keserakahan.

4. Khiqdu atau Benci adalah segala bentuk perasaan hati yang menunjukkan kebencian kepada orang lain. Cinta dan benci memang dua sifat yang saling bertentangan dan manusia pasti memiiki keduanya. Tetapi, kebencian adalah sebuah akhlak buruk yang harus dihindari dengan berusaha sabar dan menerima keadaan dengan lapang.

5. Dendam adalah perasaan benci dan berusaha untuk membalas atas perbuatan buruk orang lain. Orang yang memiliki sifat pendendam pasti melakukan segala hal untuk membalas perlakuan buruk yang sudah dia terima, sehingga sifat ini akan menjerumuskannya pada tindakan kriminal seperti pembunuhan, penganiyayaan, dan berbagai perbuatan buruk lainnya.



6. Takabbur atau Sombong adalah perasaan hati seseorang yang merasa dirinya lebih baik dan lebih unggul daripada orang lain. Meskipun takbbur adalah sifat yang sepele tetapi Allah SWT sangat membenci hamba-Nya jika memiliki sifat ini, karena takabbur adalah sifat wajib yang dimiliki Allah SWT bukan untuk hamba-Nya. Ingatlah bahwa iblis dilaknat Allah SWT dan dikeluarkan dari surga karena memiliki sifat takabbur. Rosulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist :


لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya :
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar dzarrah dari sifat sombong".

7. Sum’ah adalah melakukan sesuatu kebaikan agar didengar oleh orang lain. Sum’ah biasa dilakukan dengan memamerkan dan menceritakan kebaikan diri agar orang lain mendengar dan memujinya. Sum’ah adalah sifat yang dilarang karena menghilangkan keikhlasan dalam melakukan kebaikan.

8. Riya adalah melakukan suatu kebaikan agar dirinya dilihat dan dinilai baik oleh orang lain. Sama halnya dengan sum’ah, sifat riya sangat dikecam karena mampu menghilangkan keikhlasan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Maun ayat 4-5 :


فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّيْنَ، الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ، الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاءُوْنَ

Artinya :
"Maka celakalah bagi orang-orang yang sholat. (yaitu) Orang-orang yang lalai dari sholatnya. Orang-orang yang berbuat riya".

9. Iri Hati adalah perasaan tidak senang atas nikmat yang diterima oleh orang lain. Sudah sewajarnya iri hati timbul ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, tetapi tidak boleh sifat ini dibiarkan berlarut-larut. Seharusnya, sebagai muslim yang mengangungkan saudaranya, kita pun turut bersyukur jika orang lain menerima nikmat.

10. Hasud atau Dengki adalah perasaan tidak senang atas nikmat yang diterima oleh orang lain, berkeinginan agar nikmat itu hilang, dan merasa senang jika orang lain mendapatkan musibah. Rosulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist :


اِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَاِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْنَّارُ الْحَطَبَ

Artinya :
"Jauhilah kamu sekalian sifat hasud, karena sesungguhnya sifat hasud bisa memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar".

11. Kufur adalah perasaan tidak mempercayai adanya Allah SWT serta nikmat dan rohmat yang Dia berikan untuk hamba-Nya. Orang yang memiliki sifat kufur disebut kafir.

12. Nifak berpura-pura dengan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukannya, sedangkan orang yang memiliki sifat nifak disebut munafik. Orang munafik dikenal sebagai orang yang berwajah dua, dia berusaha berbuat baik di depan orang lain, tetapi berkebalikan ketika berada dibelakang.

13. Syirik adalah menyekutukan Allah SWT dengan makhluk-Nya, sedangkan orang yang memiliki sifat syirik disebut musyrik. Syirik merupakan dosa yang paling besar yang dilakukan hamba kepada Allah SWT.

14. Yaksu atau Putus Asa adalah perasaan tidak akan pernah mendapatkan rohmat dan nikmat dari Allah SWT. Perasaan ini biasa timbul karena sebuah penderitaan dan masalah besar yang menimpa. Dan pada saat itulah syetan membisikan tipuan untuk menyalahkan diri, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan takdir Allah SWT. Inilah yang menyebabkan harapan untuk mendapatkan rohmat, nikmat, dan ampunan semakin redup.

15. Dan lain-lain.




MATERI AKIDAH AKHLAK KELAS 3 BAB 4 : AKHLAK TERPUJI 1

Akhlak Terpuji 1


1. Pengertian Akhlak Terpuji

   Akhlak terpuji adalah perilaku baik yang dimiliki seseorang. Orang yang memiliki perilaku baik, karena mereka mengerti manfaat atau buah dari perilaku tersebut untuk dirinya, maupun orang lain.

    Misalnya sikap disiplin. Disiplin merupakan salah satu akhlak terpuji. Dengan disiplin orang akan bisa menghargai waktu, dengan disiplin orang akan dihormati, dengan disiplin orang akan dapat meraih prestasi yang tinggi dan sebagainya. Jadi, jika seseorang mau berakhlak yang terpuji maka hasilnya akan kembali pada diri sendiri.

2. Sifat-sifat Akhlak Terpuji

a. Hormat

Sebagai makhluk yang hidup di lingkungan yang beragam, kita harus pandai-pandai menempatkan diri kita, supaya kita menjadi di hargai dan dapat berdaya guna di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, kita harus memiliki sikap hormat terhadap siapapun.

Hal itu dikarenakan, sikap hormat dapat mendorong suasana yang kondusif di lingkungan masyarakat, karena masing-masing individu saling menghargai dan menjaga kerukunan. Hasilnya, permusuhan tidak terjadi di lingkungan itu.

Adapun sikap hormat itu harus ditunjukkan kepada kedua orang tua sebagai orang yang melahirkan dan mendidik kita hingga besar, kepada guru yang telah mendidik kita dengan sabar di sekolah sehingga kita tahu ilmu-ilmu dan materi pelajaran yang sangat berguna bagi masa depan kita. Disamping itu, kita harus hormat juga kepada orang yang lebih tua dan kepada teman yang merupakan orang yang memiliki kedekatan pribadi dengan kita.

Sikap hormat memiliki manfaat yang besar bagi seseorang apabila telah terbiasa dilakukannya. Adapun manfaatnya adalah disenangi oleh Allah swt. karena kita telah menyebarluaskan kedamaian kepada setiap orang di sekitar kita, memberikan kedamaian bagi diri kita, menjadikan kita lebih dihargai oleh orang lain.

b. Patuh

Patuh memiliki definisi, suka menurut terhadap perintah, taat terhadap aturan dan disiplin. Sifat patuh terwujud dari segala hal yang baik. Namun, biasanya kesadaran itu tidak muncul dalam diri seseorang. Untuk memunculkan kesadaran untuk melakukan hal-hal yang baik dan supaya secara teratur dilaksanakan, maka dibentuklah sebuah aturan. Aturan itu biasanya mengikat seseorang.

Sikap patuh di dalam diri kita memang penting harus ada. Semua yang kita temui didalam berbagai kesempatan, pasti ada peraturan. Kamu tidak boleh menggerutu atau merasa tidak senang dengan adanya peraturan itu. Namun kita harus menaatinya dan apabila melanggar akan dikenai hukuman. Itu semua merupakan peraturan yang dibuat oleh manusia.

Dari sini ingatkah kita kalau kita ini diciptakan oleh Allah swt. ? Nah, karena kita semua diciptakan oleh Allah, maka seharusnya kita patuh kepada-Nya. Manusia membuat aturan, Allah swt. pun pasti membuat aturan yang semua peraturan itu pasti akan menuntun seseorang untuk memiliki sifat baik.

Apabila seseorang sudah berniat untuk patuh kepada Allah swt., berarti orang itu hidupnya akan selalu mengikuti aturan-Nya. Dia menjadi rela diatur hidupnya dan dituntun dengan kebenaran. Jadi, dia tidak hidup semaunya hanya menuruti hawa nafsunya. 

Mereka mengikuti arah petunjuk Allah swt. berupa ajaran agama Islam. Dalam mematuhi segala peraturan Allah swt. telah diterangkan di dalam Al-Qur'an, yang artinya: "Dan patuhlah kamu kepada Allah dab patuhlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah." (Q.S. al-Ma'idah [5]: 92).

Sikap patuh itu harus ditunjukkan terhadap segala peraturan. Bukan hanya peraturan di sekolah dan keluarga, tapi juga peraturan di lingkungan pergaulan serta peraturan yang ditetapkan oleh Allah swt. dan Rasul.

Apabila telah terbiasa untuk mematuhi peraturan Allah swt. dan peraturan Rasul, biasanya kita juga akan terbiasa untuk patuh terhadap segala peraturan di lingkungan pergaulan. Kita tidak menjadi sulit untuk mematuhi segala peraturan yang ada di hadapan kita. Sehingga, kita akan terbiasa untuk melakukan perbuatan yang baik yang akan sangat berguna bagi diri sendiri dan hidup sendiri.


MATERI AKIDAH AKHLAK KELAS 3 BAB 3 : BERIMAN KEPADA MALAIKAT

BERIMAN KEPADA MALAIKAT


Anak-anak , ada berapa rukun iman itu?
Apa rukun iman yang kedua?
Ya betul sekali, Rukun iman itu ada 6.
Rukun iman yang kedua adalah iman kepada malaikat-malaikata Allah.
Anak-anak, apa artinya iman itu?
Iman adalah  meyakini adanya sesuatu. Sedang beriman kepada malaikat adalah meyakini adanya malikat tersebut.

Salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap mukmin adalah beriman kepada malaikat-malaikat Allah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Jibril, ketika malaikat Jibril ditanya tentang iman, kemudian dijawab oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallaam, “ Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya. Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan terhadap takdir yang baik dan yang buruk.” (H.R. Muslim).

Tidak sah keimanan seseorang sehingga dia beriman dengan benar terhadap malaikat-malaikat Allah. Bagaimana keimanan yang benar terhadap para malaikat? Mari kita simak penjelasan berikut.

A. Cakupan Iman kepada Malaikat

Keimanan seorang mukmin terhadap malaikat harus mengandung hal-hal berikut :
  1. Beriman terhadap wujud (keberadaan) para malaikat.
  2. Beriman terhadap nama-nama malaikat.
  3. Beriman terhadap sifat-sifat malaikat.
  4. Beriman terhadap amalan-amalan dan tugas-tugas malaikat.
Barangsiapa yang mengingkari wujud, nama malaikat, sifat-sifatnya dan tugas-tugasnya berarti batal keimanannya kepada malaikat Allah dan batal seluruh keimanannya.

B. Wujud Malaikat
Termasuk syarat sah keimanan seseorang kepada malaikat adalah mengimani wujud (keberadaan) malaikat. Malaikat adalah makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya. Wujud mereka benar-benar ada. Allah Ta’ala berfirman,
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً أُوْلِى أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَايَشَآءُ إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi. Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Faathir:1)

Di dalam shahih Bukhari juga disebutkan, dari Abu Hurairah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berfirman bahwasanya Allah mencintai fulan maka cintailah fulan, dan Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril pun mengumumkan kepada penghun langit bahwasnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia, dan para penghuni langit pun mencintai fulan. Kemudian dikabulkanlah permohonanya di dunia” (H.R. Bukhori)
Dari ayat dan hadits di atas secara jelas menjelaskan bahwa malaikat itu makhluk yang diciptakan Allah.

C. Penamaan Malaikat
Malaikat-malaikat Allah memiliki nama. Kewajiban kita adalah beriman secara global bahwa para malaikat memiliki nama. Kita beriman dengan nama-nama yang secara rinci telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antara nama-nama malaikat adalah Jibril, Mikail, serta Isrofil.
Kita juga beriman secara global adanya malaikat-malaikat Allah yang tidak kita ketahui namanya. Tidak boleh seseorang menamakan malaikat tanpa ada dalil-dali yang shahih dari Al Quran dan As Sunnah.

Bentuk dan Sifat Malaikat
Kita wajib mengimani sifat malaikat yang Allah dan Rasul-Nya beritakan kepada kita. Baik itu sifat berupa sifat kholqiyahmaupun sifat khuluqiyah. Sifat kholqiyah yaitu sifat berupa bentuk /wujud/fisik malaikat. Seperti tentang sifat Malaikat Jibril yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah melihat malaikat Jibril dalam sifat aslinya yang memilikienam ratus sayap yang hampir menutupi ufuk. Bentuk para malaikat terkadang berubah dari bentuk aslinya atas izin Allah. Contohnya adalah Jibril yang datang menemui Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyerupai laki-laki yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya.
Kita juga mengimani sifat malaikat yang berupa sifatkhuluqiyah, yaitu berupa sifat-sifat kebaikan seperti tidak pernah melanggar perintah dan selalu taat kepada Allah.

D. Malaikat dan Tugasnya
Sebagian malaikat memiliki tugas khusus yang Allah berikan kepada mereka, di antaranya:
  1. Malaikat Jibril, memiliki tugas khusus menyampaikan wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul.
  2. Malaikat Mikail, bertugas mengatur hujan dan tumbuh-tumbuhan.
  3. Malaikat Isrofil, bertugas meniup sangkakala ketika datang hari kiamat dan saat kebangkitan manusia.
  4. Malaikat maut, bertugas mencabut nyawa seseorang ketika ajal menjemput.
  5. Malaikat yang bertugas menjaga surga dan neraka.
  6. Dua malaikat yang berada di sisi kanan dan kiri manusia yang mencatat amal manusia. Banyak orang yang menamakan malaikat pencatat amal ini dengan nama Raqib Atid, yang benar Raqib Atid bukanlah nama malaikat pencatat amal akan tetapi Raqib ‘Atid adalah sifat , bukan nama . Diantara makna Raqib yaitu Hafidz ( yang menjaga ) , dan makna ‘Atid yaitu Hadhir ( yang hadir ).
  7. Malaikat Munkar dan Nakir. Dua malaikat yang mendatangi ketika seseorang sudah di alam kubur, dan bertanya kepadanya tentang siapa Rabbnya, siapa Nabinya, dan apa agamanya.
Inilah di antara beberapa malaikat yang memiiliki tugas khusus yang Allah dan Rasul-Nya telah kabarkan kepada kita. Kewajiban kita adalah mengimani hal tersebut . Sementara yang tidak ada perinciannya maka kita beriman secara global tentang tugas-tugas dan amalan para malaikat Allah.

E. Berapakah Jumlah Malaikat?
Jumlah malaikat tidak terbatas hanya sepuluh. Jumlah mereka sangat banyak, hanya Allah yang mengetahuinya. AllahTa’ala berfirman,
وَمَايَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلاَّهُوَ
Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu (yakni malaikat) melainkan Dia sendiri” (QS. Al Mudatsiir:31).
Di antara dalil yang menunjukkan banyaknya bilangan malaikat dan tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah adalah sebuah hadist shahih yang berkaitan dengan baitul makmur, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya baitul makmur berada di langit yang ketujuh setentang dengan ka’bah di bumi, setiap hari dikunjungi sebanyak tujuh puluh ribu malaikat , kemudian mereka tidak akan kembali lagi.” (H.R Bukhari dan Muslim)

F. Buah Keimanan Kepada Malaikat
Keimanan seorang mukmin yang benar terhadap malaikat akan membuahkan hal-hal berikut ini:
  1. Menambah ilmu tentang keagungan, kekuatan, dan kekuasaan Allah Ta’ala. Karena keagungan makhluk (malaikat) menujukkan keagungan penciptanya.
  2. Bersyukur kepada Allah terhadap penjagaan-Nya terhadap manusia, karena di antara malaikat ada yang bertugas menjaga mereka, mencatat amal-amal mereka, serta memberikan maslahat-maslahat (manfaat) yang lainnya bagi mereka.
  3. Muncul kecintaan kepada malaikat disebabkan ketaatan mereka beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
G. Ihtisar
1. Beriman kepada malaikat Allah adalah percaya adanya malaikat Allah.
2. Malaikat diciptakan Allah dari nur yang tidak makan dan minum.
3. Malaikat tidak dari jenis laki-laki atau perempuan.
4. Malaikat adalah tentara Allah.
5. Malaikat tidak memiliki nafsu seperti manusia.
6. Malaikat patuh dan taat kepada perintah Allah. 


MATERI AKIDAH AKHLAK KELAS 3 BAB 2 : ASMAUL KHUSNA

Al-Asma Al-Husna


Ayo,  amati gambar berikut!

Dengan merenungkan kejadian alam semesta ini kita dapat mengetahui bahwa pencipta alam ini pasti tidak sama dengan alam yang kita tempati. Dia pasti lebih dari segalanya. Itulah salah satu bukti dari kehebatan Allah Swt. Kita dapat mengenal kebesaran Allah Swt melalui nama-nama-Nya yang terbaik atau yang disebut juga dengan Al-Asma Al-Husna.
          Al-Asma Al-Husna adalah pengenalan sifat-sifat Allah Swt. Allah Swt mengenalkan diri melalui Asma (nama-nama)-Nya. Dan nama-nama terindah itu diturunkan agar Dia dijadikan panutan dalam pengembangan potensi-potensi baik dalam diri manusia.
          Al-Asma artinya nama-nama, sedangkan Al-Husna artinya baik. Dengan demikian Al-Asma Al-Husna adalah nama-nama yang baik yang berjumlah 99 nama. Dari 99 nama-nama yang baik itu, kita akan membahas 4 dari Al-asma Al- Husna yaitu:

A. Al-Adzim  (العَظِيْمُ)

          Apa arti Al- Adzim? Bagaimana sifat Allah Swt yang berkaitan dengan Al- Adzim? Ayo kita cari tahu.
          Al-Adzim artinya Allah Maha Agung. Seluruh makhluk ciptaan-Nya tunduk dan patuh menyembah kepada-Nya. Mereka bertasbih memohon kepada Allah Swt dengan menyebut nama-Nya dan menyucikan Dzat-Nya yang Maha Agung. Tidak ada satu dzat pun yang memiliki keagungan tertinggi selain Allah Swt. Firman Allah Swt dalam al-Qur’an surah Al-Baqarah Ayat 255 menggambarkan sifat Maha Agung Allah Swt.
اللّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الحَىُ الْقَيُّوم لاتَأْ خُذُهُو سِنَةٌ وَلَا نَوم لَّهُ مَا فِى السَّمَوَتِوَمَا فِى الْارْضِ مَن ذَا الّذِىيَشْعُ عِندَهُو إشاَّلابِإِذْنِهِو يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْوَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَبِشَى ءٍ مِّن عِلْمِهِ إلابِمَا شَآء وَسِعَكُرسِيُهُالسَّمَوَاتِوَالرْضَ وَلاَيَءودُهُ حفْظُهُمَا وَهُوَالعلِّيُالعظيم
Artinya:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi. Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”(QS. Al-Baqarah [2]:255).

B. Al-Kabir ) (الكبير

          Apa arti Al-Kabir? Bagaimana sifat Allah Swt yang berkaitan dengan Al-Kabir? Ayo kita cari tahu.
          Al-Kabir artinya Allah Maha Besar. Al-Kabir adalah salah satu dari Al- Asma Al-Husna yang berarti Allah Maha Besar. Kebesaran Allah Swt dibuktikan dengan ciptaan-ciptaan-Nya yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya. Contoh Allah Swt bersifat Al-Kabir adalah dengan diciptakannya matahari yang sangat panas dengan sinar yang menerangi semesta alam sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk. Begitu juga terhamparnya laut yang luas dan gunung-gunung yang tinggi menghiasi bumi ini semakin membuktikan bahwa Allah Maha Besar.
          Ketika seorang Muslim sudah takbir (membesarkan nama Allah Swt), maka pikiran, perasaan, dan gerakan fisiknya hanya tertuju kepada Allah Swt. Ia berdiri dengan posisi menghormat, ruku’ dengan posisi merunduk, dan sujud berserah diri secara total kepada Allah Swt. Membesarkan nama Allah Swt tidak hanya dalam shalat. Namun shalat merupakan bukti sikap tawaduk dan rendah diri di hadapan Allah Swt. Siapa saja yang bersikap rendah diri maka Allah Swt akan mengan
gkat derajatnya, dan siapa saja yang bersikap angkuh maka Allah Swt akan menistakannya. Dalam al-Qur’an surah Al-Ra’d ayat 9 Allah Swt berfirman:
عَلِمُ الْغَيْبِ وَالِشَّهَدَةِالكَبِيرُالمُتَعَالِ
Artinya:
“yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak yang Maha besar lagi Maha
tinggi.” (QS. Al-Rad [13]:9).

CAl-Karim ) )الكَرِيْمُ
          Apa arti Al-Karim? Bagaimana sifat Allah Swt yang berkaitan dengan Al Karim? Ayo kita cari tahu.
          Makna pertama Al-Karim berarti kedudukan-Nya tinggi dan kekuasaan-Nya besar. Makna ini merujuk pada kemuliaan dzat. Dalam al-Qur’an surah Yusuf ayat 31 Allah Swt berfirman:
فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِ هِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهًنَّ مُتَّكَئا وَءَاتَتْ كُلَّ وَا حِدَةٍ مِنْهُنَّ سِكَيْنَا وَقَالَتِ اُخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُو أكْبَرْ نَهُو وَقَطَعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَشَ لِلّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إلَّا مَلَكٌ كَرِيْمٌ
Artinya:
“Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia.”(QS. Yusuf [12]:31).

          Makna kedua Al-Karim berarti pemilik sifat-sifat indah atau karakter yang mulia. Makna ketiga Al-Karim berarti kemuliaan pada perbuatan-Nya. Sehingga ketiga makna di atas adalah Allah Swt Maha mulia dalam dzat, sifat, dan perbuatan- Nya. Orang yang mengetahui bahwa Allah Swt Maha Mulia sifat-Nya maka ia takkan mencintai selain Allah Swt. Orang yang mengetahui bahwa Allah Swt Maha Mulia dzat-Nya maka ia akan mencintai Allah Swt tanpa adanya keraguan. Orang yang mengetahui bahwa Allah Swt Maha Mulia perbuatan-Nya maka ia takkan meminta selain kepada Allah Swt. Contoh Allah Swt memiliki sifat Al-Karim yaitu Allah Swt selalu memaafkan hambanya dan Allah Swt selalu menepati janji-Nya bila berjanji. Allah Swt tidak akan mengabaikan hamba yang menuju dan berlindung kepada-Nya.

DAl-Malik  (المَلِكُ)

          Apa arti Al-Malik? Bagaimana sifat Allah Swt yang berkaitan dengan Al-Malik? Ayo kita cari tahu.
          Al-Malik artinya Yang Maha raja. Dialah yang merajai segala raja dan dzat yang berkuasa di bumi ini. Dzat yang memiliki kerajaan berarti memiliki kewenangan mutlak untuk mengatur dan memutuskan kepentingan seluruh makhluk tanpa butuh bantuan, tanpa bisa dihalangi, dan tanpa butuh pendukung. Allah Swt memiliki kekuasaan itu dengan dibarengi keagungan dan kemuliaan.
          Nama Allah Al-Malik mencakup seluruh sifat keagungan, kekuasaan, dan keluasan ilmu. Artinya, tak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Allah Swt berkuasa mewujudkan ketentuan-Nya, berupa pahala maupun siksa. Contoh semua jabatan, kekuasaan, kewenangan, kedudukan dan kemuliaan ada di bawah kekuasaan Allah Swt. Jika di dunia ini kita banyak menjumpai orang yang berkuasa, memiliki kewenangan dan jabatan yang tinggi, memiliki kewenangan dan kekuasaan mengatur segala sesuatu, maka Allah Swt lebih kuat dan lebih berkuasa dari semua itu. Sebagai yang paling berkuasa di seluruh jagat semesta raya, maka Dialah yang berkuasa pula untuk mencabut dan memberi kekuasaan pada siapa yang dikehendaki-Nya. Firman Allah Swt dalam al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 247:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ الّله قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكَا قَالُواْ أَنَّى يَكُو نُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَ حَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَا لِقَا لَ إِنَّ الّلهَ اصْطَفَآهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُو بَسْطَةً فِى العِلْمِ وَالْجِسْمِ وَالّلهُ يُؤ تِى مُلْكَهُو مَن يَشَآءُ وَاللهوسِعٌ عَلَيمُ
Artinya:

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah Kami, Padahal Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih mu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]:247).

Untuk asmaul khusna yang lainnya dapat dilihat di video pembelajaran berikit ini :